Sidang Tahir Ferdian Digelar, Harapan Kerabat Bebas dari Segala Tuntutan JPU

SUARAToday.Com (BATAM) – Dukungan moral ke Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng, Pasca dituntut 2 tahun dan 6 bulan oleh JPU terus mengalir. Kali ini datang dari Zardi Khaitami salah satu tokoh pemuda di Batam, Pria yang juga sebagai Ketua Karang Taruna Tiban Indah Batam mengaku mengikuti perkembangan informasi terkait perkara tersebut di Pengadilan Negeri Batam.

Dari amatannya, Tahir sudah menunjukkan sikap yang baik dipersidangan. Namun ia sayangkan, justru saksi korban Ludjianto Taslim tak pernah menghadiri persidangan. Kendati, sikap Pengacara Supriyadi SHI MH dan Abdul Kodir Batubara mengajukan peldoi pembebasan Tahir ia dukung.

“Karena menurut pengamatan kami, baik informasi langsung maupun tidak langsung melalui media, bahwa pak Tahir juga memiliki saham di perusahaan itu. Dan sampai saat ini kalau kami kutip perkataan pengacara belum terbukti satu pun dakwaan JPU, Nah kalau pengacara minta pak Tahir bebas demi hukum ya sah-sah saja. Karena memang hak pak Tahir kan,” kata Zardi Kamis (21/11).

Zardi berharap, Tahir bebas dari segala tuntutan JPU. Sebab katanya, sepengetahuannya Tahir Ferdian adalah sosok pebisnis kelas Wahid. Dan baik terhadap siapapun. Ia mengatakan, sebagai bos besar, terkadang anak buah kalau salah di perusahaan tetap bos Tahir yang disalahkan.

“Isu-isu miring itu kan wajar ada, karena hak orang bicara. Tapi kalau kami lihat dan pengalaman kami, sosok pak Tahir adalah sosok yang baik dan dermawan. Jadi kami kaget dituduhkan hal-hal di luar dugaan kami, Apa lagi sampai ke proses hukum. Kami berharap dan berdoa, pak Tahir bebas dari segala tuntutan JPU,” imbuhnya.

Sebelumnya, sidang terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng kembali digelar, Kamis (21/11) pagi. Dengan agenda pembacaan pledoi atau nota pembelaan dari kuasa hukum terdakwa.

Hadir kuasa hukum terdakwa Supriyadi SHI MH dan Abdul Kodir Batubara SH. Sebelum masuk ke petitum atau permintaan kuasa hukum, terlebih dahulu menguraikan fakta-fakta yuridis dan analisis yuridis. Selain menguraikan fakta-fakta tersebut, Supriyadi juga membacakan keterangan para saksi dalam perkara nomor 731/Pid.B/2019/PN.Btm tersebut.

Pada kesimpulannya, Supriyadi mengatakan, sangat berkeyakinan kliennya tidak beralasan hukum dituntut dua tahun dan enam bulan oleh jaksa penuntut umum atau JPU karena diduga melakukan perbuatan hukum pasal 372 KUHP.

“Dapat kami jelaskan bahwa, saham 50 persen saksi korban Ludjianto Taslim sudah menggadaikan kepada klien kami. Buktinya ada, Dan setelah tenggat waktu pembayaran dan tidak terbayar oleh saksi korban saham itu menjadi milik klien kami. Dan tidak ada alasan pembenaran satu pun semua tuntutan JPU yang dialamatkan kepada klien kami,” kata Supriyadi.

Menurut Supriyadi dalam persidangan, Ludjianto Taslim sebagai saksi korban atas pelapor hingga saat ini tak pernah hadir dalam persidangan. Hal ini menunjukkan, tuduhan kepada kliennya tidak lah benar sama sekali. Selain itu katanya, dakwaan yang dituduhkan penggelapan kepada Tahir sama sekali tidak berdasar dan tidak beralasan hukum.

Usai membaca menguraikan fakta-fakta yuridis dan analisis yuridis secara terperinci, Supriyadi kemudian menyampaikan petitum di bagian akhir pledoi setebal sekitar 70 halaman itu. Petitum yang dimaksud ada tujuh poin.

Permintaan pertama, menyatakan Terdakwa Tahlr Ferdian alias Lim Chong Peng tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, bersalah melakukan tindak pidana Sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum; Kedua Membebaskan Terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Pang dari segala Dakwaan Jaksa Penunlut Umum;

Ketiga Melepaskan Terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng dari segala Tuntutan hukum; Keempat Menyalakan membebaskan Terdakwa Tahir Ferdian Chong Peng dari segala bentuk penahanan segera setelah putusan ini diucapkan; kelima Menyatakan memulihkan harkat dan martabat terdakwa Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng dalam keadaan semula;

“Keenam Memerintahkan Jaksa Penuntut Umum mengembalikan semua barang bukti dan alat bukti yang disita oleh Sdr. Jaksa Fenuntut Umum kepada yang berhak dan darimana benda itudisita dan ketujuh Menyatakan biaya perkara dibebankan kepada negara,” sambung Supriyadi.

Persidangan dipimpin Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu. Didampingi dua majelis Anggota Yona Lamerossa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan. Usai dibacakan, diberikan kesempatan kepada JPU Rosmalina Sembiring untuk mengajukan replik atau jawaban JPU pada Senin 25 November 2019, atas pledoi tersebut.

Seperti diketahui, perkara tersebut bergulir terkait aset PT. Taindo Citratama. Tahir sebagai Komisaris dan Ludjianto Taslim sebagai Direktur sebelumnya dan sama sama memiliki aset senilai 50 persen atas PT. Taindo Citratama tersebut.

Perusahaan yang bergerak di bidang produksi plastik yang terletak di Sekupang sudah ada belasan tahun. Hanya saja, menurut keterangan di persidangan tak jalan. Sekitar tahun 2016 terjadi selisih paham antara kedua nya. Dan bergulir sampai ke pengadilan perkaranya. Pada sidang-sidang sebelumnya, Tahir membantah semua dakwaan yang dialamatkan.

Tahir mengatakan, tidak pernah menjual mesin seperti yang didakwakan. Ia aminkan mesin itu sudah berpindah dari lokasi Sekupang ke Bukti Senyum. Hanya saja bukan untuk dijual, Melainkan untuk diperbaiki. Dan hal ini juga dibenarkan saksi Willian yang disebut-disebut sebagai calon pembeli.

“Mesin itu ada yang sampai 30 tahun lebih. Mau diperbaiki, Dan bukan untuk dijual. Itu tidak benar semua yang dituduhkan,” ujar Tahir.

Sekedar informasi, pada sidang Kamis dipimpin Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu dan majelis Anggota Taufik Akan Halim Nainggolan dan Yona Lamerosa Ketaren. Sementara JPU dihadiri Rosmalina Sembiring.(A Chan). (Red/Navi/LA).